2017/01/01

Kisah Sahabat Nabi Abu Mihjan Ats-Tsaqafiy Ra

Sang Pemabuk Yang Merindukan Syahid

Kisah Sahabat Nabi Abu Mihjan Ats-Tsaqafiy Ra
Kisah Sahabat Nabi Abu Mihjan Ats-Tsaqafiy Ra - Manusia bukan lah malaikat yang tak bisa lepas dari dosa namun manusia bukan pula iblis yang selalu melakukan kesalahan atau dosa , sejati manusia  siapa pun dia memiliki kesalahan, maka itulah sebaik-baik manusia yang membuat kesalahan adalah yang mau bertaubat kembali ke jalan Nya

Sahabat Muslim mungkin ada di antara kita yang ingin berbuat kebaikan bahkan ingin berjihad di jalan Allah swt tetapi merasa belum pantas karena merasa diri penuh dengan dosa, oleh sebab itu mungkin Kisah Sahabat Nabi yang satau  ini akan menjawab setiap keraguan kita untuk berbuat baik atau pun berjihad di jalan Allah Swt

 Abu Mihjan -radhiyallahu 'anhu-, dia adalah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.Beliau merupakan sahabat yang mempunyai kebiasan yang tidak baik yaitu minum khamr. Akibat kebiasaannya meminum khamr ini, ia terkena hukuman cambukan Bahkan Ibnu Jarir menyebutkan Abu Mihjan tujuh kali dihukum cambuk. namun walaupun dia seorang pemabuk dia adalah seorang laki-laki yang sangat mencintai jihad, perindu syahid, dan hatinya gelisah jika tidak andil dalam aksi-aksi jihad para sahabat nabi Radhiallahu ‘Anhum.
Hingga pada sewaktu ketika terjadi perang Al Qadisiyah yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqash Radhiallahu ‘Anhu melawan Persia, pada masa pemerintahan Khalifah Umar Radhiallahu ‘Anhu. Abu Mihjan ikut andil di dalamnya, dia tampil gagah berani bahkan termasuk yang paling bersemangat dan banyak membunuh musuh. Tetapi, saat itu dia dikalahkan keinginannya untuk meminum khamr, akhirnya dia pun meminumnya.dan itu di ketahui oleh orang dan di laporkan ke Sa’ad bin Abi Waqash Maka, Sa’ad bin Abi Waqash menghukumnya dengan memenjarakannya serta melarangnya untuk ikut jihad.

Di dalam jeruji penjara, dia merasa gelisah dan sangat sedih karena tidak bisa bersama para mujahidin untuk berperang .ia mendengar suara-suara pedang dan tombak beradu, dan ringkikan kuda, ia mengetahui bahwa perang jihad sedang berlangsung, dan terbukalah pintu-pintu surga. Beliau ingin sekali pergi berjihad.

Hal ini diketahui oleh istri Sa’ad bin Abi Waqash yang bernama Salma, dia sangat iba melihat penderitaan Abu Mihjan, menderita karena tidak dapat ikut berjihad, menderita karena tidak bisa berbuat untuk agamanya! Maka, tanpa sepengetahuan Sa’ad -yang saat itu sedang sakit, dan dia memimpin pasukan melalui pembaringannya, serta mengatur strategi di atasnya- Beliau membebaskan Abu Mihjan untuk dapat bergabung dengan para mujahidin. Abu Mihjan meminta kepada Salma kudanya Sa’ad yaitu Balqa dan juga senjatanya. Beliau berjanji, jika masih hidup akan mengembalikan kuda dan senjata itu, dan kembali pula ke penjara. Sebaliknya jika wafat memang itulah yang dia cita-citakan. yaitu mati sebagai syuhada

Abu Mihjan berangkat ke medan tempur dengan wajah tertutup kain sehingga tidak seorang pun yang mengenalnya. Dia masuk turun ke medan jihad dengan gesit dan gagah berani. Sehingga Sa’ad memperhatikannya dari kamar tempatnya berbaring karena sakit dan dia takjub kepadanya, dan mengatakan: “Seandainya aku tidak tahu bahwa Abu Mihjan ada di penjara, maka aku katakan orang itu pastilah Abu Mihjan. Seandainya aku tidak tahu di mana pula si Balqa, maka aku katakan kuda itu adalah Balqa.”
Sa’ad bin Abi Waqash bertanya kepada istrinya, dan istrinya menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada Abu Mihjan, sehingga lahirlah rasa iba dari Sa’ad kepada Abu Mihjan.
Perang usai, dan kaum muslimin menang gilang gemilang. Abi Mihjan kembali ke penjara, dan dia sendiri yang memborgol kakinya, sebagaimana janjinya. Sa’ad bin Waqash Radhiallahu ‘Anhu mendatanginya dan membuka borgol tersebut, lalu berkata


لا نجلدك على خمر أبدا فقال: وأنا والله لا أشربها أبدا

Kami tidak akan mencambukmu karena khamr selamanya. Abu Mihjan menjawab: “Dan Aku, Demi Allah, tidak akan lagi meminum khamr selamanya!

 Dan sejak itu kebiasan minum khamarnya beliau tingalkan selamanya

Sahabat muslim Sangat sulit bagi kita untukn menyamai sahabat Nabi seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para sahabat nabi yang mulia, Radhiallahu ‘Anhum. Tetapi, paling tidak kita masih bisa seperti Abu Mihjan, walau dia pelaku maksiat namun masih memiliki ghirah kepada perjuangan agamanya, dannamanya dalam tertulis dalam deretan nama-nama pahlawan Islam. Semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam deretan para pejuang agama-Nya, mengikhlaskan, dan memberikan karunia syahadah kepada kita. Amin.

Wallahu A’lam.


0 komentar:

Posting Komentar